Rabu, 21 November 2018

Muh.Khalid Wahid Zainuddin, GUMURUH PELACURAN


Bernyawa,Berakal,Berdarah, dan Berjazad...
   Jelas bukan hewan tapi tidak jauh dari pada hewan!
Ketika gemuruh misteri amnesia terpaku dalam jazad nampak tilas kiasan di balik tirai tersembunyi
berlari-lari penuh penampakan, Aku tak tau... tak perlu kau tanyakan. topeng-topeng itu sudah terlihat tanpa kepalsuan
jauhku terpenjarakan dikampung halaman orang asing, tapi jauhku tersebut meraja lelah pesan-pesan kampung halamanku azimat-azimat semuanya saya khianati... Tak perlu kujawab mungkin itu kenikmatan
malamku indahnya lampu-lampu kota megahnya rayuan tempatku terpaku dengan kilau cahaya perlahan redup,telagramku bersetubuh patah sayap, oh... bukan air hujan yang jatuh di malam hari tak perlu kau terangkan karna itu bunyi cicak
gemuruh itu datang dengan kekejamannya....
tampilanku kumodifikasi ulang sedemikian rupa, keimanan kuperlihatkan tuhanpun amnesia akan itu... ha ha ha
apa lagi dengan duniaku saat ini, kampusku rasa sosialita... ha ha ha
dunia berpendidikan tak berpelajar.
ini bukan soal kemunafikan tapi inilah yang kusebut nafsu murahan yang ku pertontonkan... ha ha ha
kini semuanya hilang....
sadarku sesal
sadarku perih
sadarku sakit
semunya telah saya pelacuri sangkaku itu kenikmatan.  ternyata bencana
tuhan tak amnesia
keluargaku merasa
tobatku terabaikan
Dimanaka tempat terakhirku TUHAN. 

Selasa, 20 November 2018

SUMPAH MAHASISWA

''sumpah hanya tinggallah sumpah''

Oleh: Muhammad Khalid Wahid

 Kami Mahasiswa Indonesia Bersumpah :

Bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan

Kami Mahasiswa Indonesia Bersumpah :

Berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan keadilan

Kami Mahasiswa Indonesia Bersumpah :

Berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan

Begitulah bunyi sumpah mahasiswa yang sering diteriakan oleh mahasiswa terdahulu terlebih sebelum reformasi sangat banyak rintangan yang dihadapi oleh mahasiswa untuk melawan pemerintahan yang ototiter sehingga lengserlah sang nahkoda setelah berkuasa selama 32 tahun di Negeri ini.

Cobalah bunyikan setiap bait-bait dari kalimat sumpah mahasiswa itu di dalamnya tersimpan pesan yang seakan-akan memberikan tanggung jawab dan kepercayaan kepada mahasiswa. Namun kini sumpah hanya tinggallah sumpah semua itu berubah menjadi kepentingan-demi kepentingan

Sebagai seorang mahasiswa sudah sepatutnya untuk memegang dan menanamkan kedalam jiwa dan mengamalkan nya Sumpah Mahasiswa ini pada kehidupan baik dilingkungan akademik maupun dilingkungan masyarakat luas.

Tapi pada faktanya, jangankan untuk mengamalkan, hapal pada Sumpah Mahasiswa ini sendiri banyak mahasiswa yang tidak hapal bahkan mirisnya tidak sedikit yang bahkan tidak mengetahui adanya Sumpah Mahasiswa ini.

Bertanah Air Satu Tanah Air tanpa penindasan

Di Era reformasi saat ini gerakan mahasiswa merupakan pilar penting dalam mengawasi setiap kebijakan-kebijakan pemerintah baik tingkat daerah hingga tingkat nasional. Mahasiswa tidak boleh lengah harus melek politik sehingga peka terhadap keadaan yang ada.

Gerakan mahasiswa haruslah satu dan sama bertujuan untuk satu kesatuan dan kemajuan Indonesia. Mahasiswa sangat diharapkan melakukan gerakan demi satu tanah air bukan karena kepentingan diri ataupun kelompok tertentu.

Namun sayang gerakan mahasiswa kini tengah melempem nyaris tidak ada gaungnya lagi. Mungkin karena politik kini dikuasai oleh partai-partai. Kekuatan mahasiswa tidak lagi muncul sebagai oposisi kreatif. Mahasiswa sekarang disibukkan oleh gadget, internet, pacaran, dugem, musik, dan sebagainya. Bukan dulu tidak seperti itu. Hanya saja dulu ada momentum tepat untuk meledakkan gerakan mahasiswa.

Ahir-ahir ini Aktivis mahasiswa sudah sangat  banyak dipengaruhi oleh lingkungan dan perkembangan zaman dan sistem dengan kata lain lingkungan dan minset mahasiswa dapat dipengaruhi oleh keadaan, hobi dan aktifitas sehari-seharinya. Mahasiswa memang berperan penting dalam perubahan dan perkembangan disetiap lingkungna bukan hanya kampus, keluaraga masyarakat dan bangsa.

Mahasiswa dituntut untuk memiliki kemampuan dan ketrampilan ekstra dalam menyikapi kedadaan lingnkuangn. Selain itu mahasiswa harus peka terhadap isu dan keadaan lingkungan agama dan bangsa. Oleh karna itu mahsiswa harus memliki moral dan etika yang cukup memmupuni dalam menyikapi kehidupan dan memberiakan tangguang jawab untuk mengelola komponen-komponenn demi kelengsungan kehidupan dalam bermasyarakat. Namun sayang sumpah tinggallah sumpah.

Berbangsa Satu, Bangsa yang Gandrung akan Keadilan

Melihat kondisi saat ini sangat banyak mahasiswa tidak memahami peran dan kewajibannya, bahkan tak jarang mahasiswa tidak tau sejarah bagaimana semangat juang para mahasiswa tahun 1998 lalu. Belajar dilokal hanya mengajarkan kemunafikan ketidak jujuran itu terus dan terus dilalui seakan diperbodohi angka yang berbungkuskan memperjuangkan kesuksesan. Seakan-akan masa deapan hanya sebatas nilai dan diskusi dungu tentang pelajaran. Tanpa peduli ada yang mesti dipertangguangjawabkan.

Idealis seakan tidak akan didengungkan lagi oleh banyak mahasiswa terhkusus aktivis yang pada dasarnya menjadi harapan bagi agama dan bangsa terebih masyarakat untuk menyampaikan setiap aspirasi masyarakat. Saat ini mahasiswa tidak lagi ada yang berdiri sendiri dalam menyikapi keadaan bangsa seakan-akan setiap pergerakan ada kepentingan didalamnya.

Para pejuang keadilan tidak lagi mendengungkan aspirasi mereka seakan bungkam. Namun faktanya sangat banyak ketidakadilan itu terjadi ahir-ahir ini bukan hanya dalam bidang ekonomi ataupun hukum. Sangat banyak permasalahan ketidakadilan yang terjadi jangankan ditingkat nasional bahkan disekitar pun banyak melihat praktek ketidakadilan.

Contohnya seorang mahasiswa Akper Muhammadiya Makassar yang sedang di DO ketika berdemonstrasi menuntut haknya yang jelas secara terperinci dan lagi pula harus ditahan di polsek mamajang kota makassar . Lagi-lagi mahasiswa seharusnya tidak boleh diam ketika tidak ada kebijakan dari pihak direktur. Yang paling diharapkan Mahasiswa yang sedang menjabat di lembaga Eksekutif mahasiswa. Namun sumpah tinggallah sumpah.

Berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan

bahasa tanpa kebohongan juga terus diteriakan disetiap aksi-aksi demonstarsi oleh mahasiswa, kalimat itu seakan-akan memberikan kesejukan kepada rakyat menengah kebawah. Tapi saat ini teriakkan itu sudah tidak lagi murni untuk kepentingan rakyat ada banyak. Ada  banyak organisasi mahasiswa  yang pergerakkannya sudah dikendalikan oleh partai politik. Bagaimana tidak bahakan banyak dari pimpinan-pimpinan dan seniornya sudah terlibat dalam politik praktis.

Sejarah baru pelajaran bahwa mahasiswa harus menjaga jangan sampai menggadaikan idealisme. Tan Malaka pernah berkata ''idealisme adalah kemewahan terahir yang hanya dimiliki oleh pemuda/ mahasiswa.'' Namun sayang sumpah hanya tinggallah sumpah.

Muhammad khalid wahid "Corona dalam virus arus globalisasi"

seiring berjalannya zaman kita tidak terlepas dari pesatnya arus globalisasi dan bisa kita lihat berbagai info belahan dunia seiring berjala...

matinya demokrasi