Rabu, 21 November 2018

Muh.Khalid Wahid Zainuddin, GUMURUH PELACURAN


Bernyawa,Berakal,Berdarah, dan Berjazad...
   Jelas bukan hewan tapi tidak jauh dari pada hewan!
Ketika gemuruh misteri amnesia terpaku dalam jazad nampak tilas kiasan di balik tirai tersembunyi
berlari-lari penuh penampakan, Aku tak tau... tak perlu kau tanyakan. topeng-topeng itu sudah terlihat tanpa kepalsuan
jauhku terpenjarakan dikampung halaman orang asing, tapi jauhku tersebut meraja lelah pesan-pesan kampung halamanku azimat-azimat semuanya saya khianati... Tak perlu kujawab mungkin itu kenikmatan
malamku indahnya lampu-lampu kota megahnya rayuan tempatku terpaku dengan kilau cahaya perlahan redup,telagramku bersetubuh patah sayap, oh... bukan air hujan yang jatuh di malam hari tak perlu kau terangkan karna itu bunyi cicak
gemuruh itu datang dengan kekejamannya....
tampilanku kumodifikasi ulang sedemikian rupa, keimanan kuperlihatkan tuhanpun amnesia akan itu... ha ha ha
apa lagi dengan duniaku saat ini, kampusku rasa sosialita... ha ha ha
dunia berpendidikan tak berpelajar.
ini bukan soal kemunafikan tapi inilah yang kusebut nafsu murahan yang ku pertontonkan... ha ha ha
kini semuanya hilang....
sadarku sesal
sadarku perih
sadarku sakit
semunya telah saya pelacuri sangkaku itu kenikmatan.  ternyata bencana
tuhan tak amnesia
keluargaku merasa
tobatku terabaikan
Dimanaka tempat terakhirku TUHAN. 

Selasa, 20 November 2018

SUMPAH MAHASISWA

''sumpah hanya tinggallah sumpah''

Oleh: Muhammad Khalid Wahid

 Kami Mahasiswa Indonesia Bersumpah :

Bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan

Kami Mahasiswa Indonesia Bersumpah :

Berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan keadilan

Kami Mahasiswa Indonesia Bersumpah :

Berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan

Begitulah bunyi sumpah mahasiswa yang sering diteriakan oleh mahasiswa terdahulu terlebih sebelum reformasi sangat banyak rintangan yang dihadapi oleh mahasiswa untuk melawan pemerintahan yang ototiter sehingga lengserlah sang nahkoda setelah berkuasa selama 32 tahun di Negeri ini.

Cobalah bunyikan setiap bait-bait dari kalimat sumpah mahasiswa itu di dalamnya tersimpan pesan yang seakan-akan memberikan tanggung jawab dan kepercayaan kepada mahasiswa. Namun kini sumpah hanya tinggallah sumpah semua itu berubah menjadi kepentingan-demi kepentingan

Sebagai seorang mahasiswa sudah sepatutnya untuk memegang dan menanamkan kedalam jiwa dan mengamalkan nya Sumpah Mahasiswa ini pada kehidupan baik dilingkungan akademik maupun dilingkungan masyarakat luas.

Tapi pada faktanya, jangankan untuk mengamalkan, hapal pada Sumpah Mahasiswa ini sendiri banyak mahasiswa yang tidak hapal bahkan mirisnya tidak sedikit yang bahkan tidak mengetahui adanya Sumpah Mahasiswa ini.

Bertanah Air Satu Tanah Air tanpa penindasan

Di Era reformasi saat ini gerakan mahasiswa merupakan pilar penting dalam mengawasi setiap kebijakan-kebijakan pemerintah baik tingkat daerah hingga tingkat nasional. Mahasiswa tidak boleh lengah harus melek politik sehingga peka terhadap keadaan yang ada.

Gerakan mahasiswa haruslah satu dan sama bertujuan untuk satu kesatuan dan kemajuan Indonesia. Mahasiswa sangat diharapkan melakukan gerakan demi satu tanah air bukan karena kepentingan diri ataupun kelompok tertentu.

Namun sayang gerakan mahasiswa kini tengah melempem nyaris tidak ada gaungnya lagi. Mungkin karena politik kini dikuasai oleh partai-partai. Kekuatan mahasiswa tidak lagi muncul sebagai oposisi kreatif. Mahasiswa sekarang disibukkan oleh gadget, internet, pacaran, dugem, musik, dan sebagainya. Bukan dulu tidak seperti itu. Hanya saja dulu ada momentum tepat untuk meledakkan gerakan mahasiswa.

Ahir-ahir ini Aktivis mahasiswa sudah sangat  banyak dipengaruhi oleh lingkungan dan perkembangan zaman dan sistem dengan kata lain lingkungan dan minset mahasiswa dapat dipengaruhi oleh keadaan, hobi dan aktifitas sehari-seharinya. Mahasiswa memang berperan penting dalam perubahan dan perkembangan disetiap lingkungna bukan hanya kampus, keluaraga masyarakat dan bangsa.

Mahasiswa dituntut untuk memiliki kemampuan dan ketrampilan ekstra dalam menyikapi kedadaan lingnkuangn. Selain itu mahasiswa harus peka terhadap isu dan keadaan lingkungan agama dan bangsa. Oleh karna itu mahsiswa harus memliki moral dan etika yang cukup memmupuni dalam menyikapi kehidupan dan memberiakan tangguang jawab untuk mengelola komponen-komponenn demi kelengsungan kehidupan dalam bermasyarakat. Namun sayang sumpah tinggallah sumpah.

Berbangsa Satu, Bangsa yang Gandrung akan Keadilan

Melihat kondisi saat ini sangat banyak mahasiswa tidak memahami peran dan kewajibannya, bahkan tak jarang mahasiswa tidak tau sejarah bagaimana semangat juang para mahasiswa tahun 1998 lalu. Belajar dilokal hanya mengajarkan kemunafikan ketidak jujuran itu terus dan terus dilalui seakan diperbodohi angka yang berbungkuskan memperjuangkan kesuksesan. Seakan-akan masa deapan hanya sebatas nilai dan diskusi dungu tentang pelajaran. Tanpa peduli ada yang mesti dipertangguangjawabkan.

Idealis seakan tidak akan didengungkan lagi oleh banyak mahasiswa terhkusus aktivis yang pada dasarnya menjadi harapan bagi agama dan bangsa terebih masyarakat untuk menyampaikan setiap aspirasi masyarakat. Saat ini mahasiswa tidak lagi ada yang berdiri sendiri dalam menyikapi keadaan bangsa seakan-akan setiap pergerakan ada kepentingan didalamnya.

Para pejuang keadilan tidak lagi mendengungkan aspirasi mereka seakan bungkam. Namun faktanya sangat banyak ketidakadilan itu terjadi ahir-ahir ini bukan hanya dalam bidang ekonomi ataupun hukum. Sangat banyak permasalahan ketidakadilan yang terjadi jangankan ditingkat nasional bahkan disekitar pun banyak melihat praktek ketidakadilan.

Contohnya seorang mahasiswa Akper Muhammadiya Makassar yang sedang di DO ketika berdemonstrasi menuntut haknya yang jelas secara terperinci dan lagi pula harus ditahan di polsek mamajang kota makassar . Lagi-lagi mahasiswa seharusnya tidak boleh diam ketika tidak ada kebijakan dari pihak direktur. Yang paling diharapkan Mahasiswa yang sedang menjabat di lembaga Eksekutif mahasiswa. Namun sumpah tinggallah sumpah.

Berbahasa satu, bahasa tanpa kebohongan

bahasa tanpa kebohongan juga terus diteriakan disetiap aksi-aksi demonstarsi oleh mahasiswa, kalimat itu seakan-akan memberikan kesejukan kepada rakyat menengah kebawah. Tapi saat ini teriakkan itu sudah tidak lagi murni untuk kepentingan rakyat ada banyak. Ada  banyak organisasi mahasiswa  yang pergerakkannya sudah dikendalikan oleh partai politik. Bagaimana tidak bahakan banyak dari pimpinan-pimpinan dan seniornya sudah terlibat dalam politik praktis.

Sejarah baru pelajaran bahwa mahasiswa harus menjaga jangan sampai menggadaikan idealisme. Tan Malaka pernah berkata ''idealisme adalah kemewahan terahir yang hanya dimiliki oleh pemuda/ mahasiswa.'' Namun sayang sumpah hanya tinggallah sumpah.

Rabu, 24 Oktober 2018

INDUSTRIALISASI AGAMA

Oleh: Muhammad Khalid Wahid

Study fenomenologi agama nampaknya memiliki tema baru yang bisa di dalami dalam konteks prilaku keberagamaan di Indonesia. Benarkah agama terutama Islam telah mengalami proses industrialisasi di Indonesia?. Demikian hipotesis yang bisa diangkat melihat maraknya penonjolan simbol-simbol agama yang akhir-akhir ini mengisi etalase-etalase pada ruang diskusrus maupun pada langgam politik di tanah air.

Fenomena industrialisasi agama itu misalnya terlihat dari penerbitan alat alat peraga sosialisasi para calon dalam berbagai even-even politik, dari pilkada, pemilu legislatif hingga pilpres. Organisasi-organisasi berciri keagamaan baik pada level civil society, maupun partai politik berciri agama memproduksi simbol-simbol agama secara massif guna menarik perhatian konstituen sebagai pembeli produk.

Bukan hanya simbol yang telah berakulturasi secara budaya, namun juga kegiatan kegiatan keagamaan memiliki daya jual yang tinggi bagi politisi.

Yang teranyar kita saksikan bagaimana kalimat paling sakral dalam agama Islam, kalimat tauhid, di cetak secara massif menjadi aksesoris bendera, spanduk, dan topi. Suvenir yang mereka beri nama "topi tauhid" "bendera tauhid" itu di jual dan ditawarkan kpd konstituen yang ingin membeli.

Aneka pakaian seperti sarung, sajadah, mukena di beli para caleg atau politisi guna di barter dengan suara di dapil mereka.

Singkatnya, fenomena industrialisasi agama itu dapat dijadikan objek kajian mendalam untuk mengetahui apa dan bagaimana sehingga muncul fenomena seperti itu. Apakah itu menunjukkan bahwa sakralitas agama semakin memudar, akibat terjadinya kegersangan spritualitas, atau apakah itu semata fenomena pemanfaatan agama untuk tujuan mengecoh para pemilih ?

Yang pasti fenomena itu menunjukkan satu hal; pemahaman akan tauhid Islam, akidah islam masyarakat muslim di tanah air perlu terus ditingkatkan.

Minggu, 21 Oktober 2018

Demonstrasi yang mana?

Oleh:Muhammd Khalid Wahid

Kali ini penulis mencoba sedikit menjabarkan perihal gerakan-gerakan aksi demontrasi mahasiswa di era milenial ini, melihat kejadian yang sempat beberapa kali menjadi bahan renungan bagi penulis tentang gerakan aksi Mahasiswa Seluruh indonesia pada umumnya, dan pada khususnya mahasiswa di Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Selalu terbesik di fikiran, karena gerakan yang sering di lakukan mahasiswa yakni Demontrasi, memblokade jalan, membakar ban, orasi dengan lantang, bentrok dengan aparat keamanan dan lain sebagainya. Sebagai bentuk implementasi kegelisahan sebagai seorang mahasiswa yang sadar akan kerancuan pemerintah dalam mengelola negeri ini, melihat sejarah ketika gerakan Mahasiswa jaman dulu merasakan ketimpangan atau ketidakstabilan pemerintah dalam mengelola negeri, mereka semua turun kejalan bahkan yang terjadi gerakan mahasiswa terbesar pada tahun 98 ketika mencoba menurunkan Presiden Soeharto yang pada waktu rezim itu memimpin 32 tahun lamanya. Tetapi dengan adanya gerakan mahasiswa dengan menduduki gedung MPR, maka siapapun dia akan turun.

Nah menarik,di jaman sekarang yang saya lihat mahasiswa yang sadar akan ketimpangan Negara kita sangat minim sekali, sekali lagi saya cuman bisa bilang, bahwa yang menjadikan mahasiswa seperti itu adalah sifat komsumtifnya dan hedonismenya yang membuat akar-akar ke apatisan muncul pada dirinya, sehingga ketika tidak terkena masalah itu dia acuh tak acuh saja.

Yah, lanjut terkait gerakan mahasiswa hari ini saya rasa tidak efektif lagi, mengapa demikian?? Mahasiswa yang turun ke jalan hanya sebahagiaan saja, yang sadar akan hal itu sangat minim, di tambah lagi aksi yang kurang di senangi oleh para masyarakat karena terganggunya ketika menggunakan jalan. Teriak sana sini dengan lantang menggunakan megaphon itu sebenarnya sedang meneriaki siapa? Nah para Birokrat bajingan itu hanya sekedar mendengar saja, itupun kalau terdengar, karena mereka hanya duduk santai di ruangan yang megah dan mewah sambil menghitung uang yang bisa di colek lagi masuk ke rekeningnya. Iya ini fakta. Terkadang saya berfikir bahwa gerakan mahasiswa dengan sekedar berkoar dengan baik di depan gedung DPRD ataupun gedung lainnya hanya angin lewat saja, anarkis pun tetap seperti itu ,nyatanya para aparat menghajar bahkan menghalangi aksi aksi nyata mahasiswa ! Saya rasa gerakan gerakan demikian sudah tak efektif lagi, lalu adakah solusi untuk itu?? Tak ada perubahan sedikitpun, bahkan isu yang di angkat dari beberapa gerakan itu hanya seperti debu di hampas angin sepoi . Sampai sekarang saya masih bingung dengan hal itu, negeri ini sudah terlalu bajingan, para pemimpin dengan gagah beraninya bersumpah di atas kitab suci Al qur’an maupun Bibel tetap saja melanggar, karena mereka tak pernah takut Tuhan, berilmu Iya, Sekolah tinggi s1,s2,s3 bahkan Menyandang gelar Prof masih buta akan apa yang harus ia lakukan demi kebaikan negeri ini ! Tapi lebih tepatnya menyalahgunakan pengetahuan yang selama ini mereka dapatkan, lantas sampai kapan negeri ini akan begini??

Akankah Ada Gerakan Seluruh Mahasiswa Indonesia Terbesar Yang akan terjadi lagi seperti 98 ?

Akankah ada mahasiswa yang mengaku agent of change melakukan Perubahan bagi Negerinya???

Akankah semuanya merasa risih bahkan marah ketika mendengar ketimpangan pemerintah dalam mengelola negeri ini??

Lantas dimana letak arti negara Demokrasi dan Hukum Nya Negeri Ini??

Akankah mereka lebih gelisah ketika hak rakyat di injak injak bahkan hak dan martabat mereka di rampas, atau nilai mereka di ancam eror ketika mencoba turun menyuarakan kebenaran?

Sangat banyak kegelisahan penulis yang tak bisa di ungkapkan, tulisan di atas hanya sebagian besar dan kecil untuk di gambarkan, karena baik nya suatu negeri kedepan ada pada tangan – tangan pemuda dan pemudinya hari ini !

Kamis, 18 Oktober 2018

IDEOPOLITOR-STRATAK SEBAGAI PISAU ANALISIS INTELEKTUAL MUDA UNTUK MEWUJUDKAN PEMIMPIN TRANSFORMATIF

Oleh: Alumnus Zainuddin

Diawali dari pengetahuan manusia terhadap realitas, merupakan bukti bahwa kecenderungan dalam mencari serta menemukan kebenaran sebagai media dalam mencapai tujuan adalah fitrah manusia. Termasuk wilayah pengetahuan yang akan bersama-sama dikaji dalam Intermediate Training ini, yaitu ideologi, politik serta strategi dan taktik (Ideopoltor-Stratak).
Berbicara soal ideopolitor-setratak tidak lepas dari wilayah kajian politik, namun perlu difahami bahwa politik yang dimaksud adalah sebatas pengetahuan atau ilmu politik, bukan politik praktis. Karena HMI adalah organisasi mahasiswa yang bersifat perkaderan dan perjuangan (AD HMI Bab IV Pasal 7,8,9) bukan partai politik ataupun organisasi yang berafiliasi atau bahkan menjadi underbow partai politik yang memiliki kepentingan mutlak demi kekuasaan. Politik adalah Sebagai media dalam mencapai tujuan, politik bukan lagi merupakan istilah yang asing atau bahkan tabu bagi kalangan mahasiswa. Namun hal penting yang harus difahami terkait dalam perjuangan politik adalah landasan gerak (epistemology, pandangan dunia dan ideologi), manusianya (kader), serta strategi dan taktik.
Kajian ideopolitor stratak akan nampak dalam kehidupan diantaranya adalah bagaimana kekuatan ideologi yang dimiliki dapat diaplikasikan dan diwujudkan secara nyata dengan menggunakan politik melalui strategi dan taktik yang elegan dan rapi, sehingga tujuan daripada yang diharapkan dapat tercapai dengan baik.
Berangkat dari ideologi yang kuat yang telah mendarah-daging dan dilandasi dengan ketauhidan yang kokoh pula serta memiliki pisau analisis yang tajam untuk mengamalkan dalam karya nyata maka kiranya pelu memiliki alat dan pakem yang tepat, yakni dengan menggunakan politik dan strategi yang tepat pula, agar apa yang direncanakan dalam tercapai sesuai harapan. Namun tidak selesai pada tataran idiologi, politik, dan strategi yang matang saja, tapi sebagai eksekutornya tetap dibutuhkan seseorang dengan mental pelopor, visioner dan memiliki kesadaran tanggung jawab individu dan sosial, yaitu seorang yang memiliki jiwa “kepemimpinan transformatif”, dalam hal ini adalah “pemimpin muda” dan tentunya embrio pemimpin muda yang ideal berasal dari HMI.
Menyoal tentang pemimpin transformative, ia adalah pemimpin yang menggunakan karisma mereka untuk melakukan transformasi dan merevitalisasi organisasinya. Dan ia lebih mementingkan revitalisasi para pengikut dan organisasinya secara menyeluruh ketimbang memberikan instruksi-instruksi yang bersifat top-down. Pemimpin yang transformatif lebih memposisikan diri mereka sebagai mentor yang bersedia menampung aspirasi para bawahannya.
Dalam perspektif kepemimpinan transformatif, sekat yang membatasi antara peran kaum muda dan golongan tua sejatinya justru menjadi jembatan dalam melakukan proses transformasi kepemimpinan. Persoalan sesungguhnya bukan terletak pada kutub perbedaan cara pandang antara kaum muda versus kaum tua,antara prokemapanan versus properubahan. Persoalan sesungguhnya justru terletak pada bagaimana membangun mekanisme dan sistem transformasi kepemimpinan. Hal itu hanya bisa berjalan jika ada visi dan konsistensi yang kuat dalam jiwa seorang pemimpin. Dan, itu bukan monopoli kaum tua atau kaum muda saja. Tidak hanya itu, pemimpin transformatif mampu membaca peluang dan situasi yang ada, dan kemudian membuat langkah-langkah yang strategis guna mewujudkan cita-citanya.
Sejarah tidaklah berhenti pada satu noktah generasi. Sejarah akan terus menghadirkan tokoh dan pemimpinnya. Sejarah pula yang akan membuktikan apakah seorang pemimpin akan tercatat dengan tinta emas atau tinta hitam penuh bercak. Pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang berhasil melahirkan pemimpin yang melebihi kemampuannya.

STRATAK hanya boleh dipelajari oleh kader HMI yang militan dan bermental pelopor, kader yang telah memiliki kesadaran ideologi dan organisasi serta sanggup berfikir politis realistis.
Seorang yang penakut, menghindari resiko dan lebih mengedepankan kepentingan pribadi dari pada kepentingan perjuangan “HARAM” mempelajari STRATAK.
STRATAK adalah modal untuk bergerak dengan “elegan” dan penuh perhitungan yang matang, tidak sembrono, anarkis dan nyelonong “offside” serta tidak bertindak radikal ekstrem yang ngawur dan nekad.
Pokok Pembahasan

* Ideopolitor-Stratak
* Pemimpin Transformatif

I.  IDEOLPOLITOR STRATAK
A. Pengertian ideopolitor-stratak
1.      Ideologi
Ideologi berasal dari bahasa Yunani dan merupakan gabungan dari dua kata yaitu edios yang artinya gagasan atau konsep dan logos yang berarti ilmu. Pengertian ideologi secara umum adalah sekumpulan ide, gagasan, keyakinan dan kepercayaan yang menyeluruh dan sistematis. Dalam arti luas, ideology adalah pedoman normatif yang dipakai oleh seluruh kelompok sebagai dasar cita-cita, nila dasar dan keyakinan yang dijunjung tinggi. Pada wilayah ideologi, tauhid jelas haruslah menjadi dasar utamanya (sumber). Bagaimana pemahaman kader maupun manusia secara umum tentang Tauhid menjadi dasar dari epistemologinya. Sehingga dengan pengetahuan yang bersumber dari Tauhid tersebut akan dapat menghasilkan pandangan dunia yang objektif. Selanjutnya pandangan dunia atau cara memahami realitas tersebut yang nantinya sebagai perangkat ideologi. Jika lebih disederhanakan lagi, ideologi sangatlah penting dalam perjuangan politik, sebab ideologi sebagai landasan setiap gerak yang akan diaktualisasikan.


Penulis: Muhmmad Khalid Wahid

                 "Aktivis Keperawatan"

DENYUT NADI

Oleh: Muhammad Khalid Wahid

jiwa tak bernalar lagi....
nalar tak berasio lagi...
rasio tak berakal lagi...
akalpun tak berpesan lagi....

nalar kini hilang arah tumpuan perlahan-lahan rasio menjauh akalpun pergi tampa berpesan meninggalkan kesakitan sukma

tetapi nadi masi saja tetap berdenyut kencang diterpa semerbak angin bersama debar paling sempurna

misteri datang kembali, kubangkit dalam keterpurukan dikiasih impian yang datang dengan penuh misteri-misterinya

oh... kaulah debar debarku,kaulah denyut nadiku,dan kaulah pembangkit penggetaran jiwaku

dunia takan melupa karena hidup tampa perjuangan adalah hidup yang tak layak di jalani

sejarahkan mencatat dan membingkai syair-syair cinta suci kita

karena nadi masi saja tetap berdenyut di kandung hayat,  kaulah utuh terpatri dalam jiwaku.

Gowa, 18 oktober 2018

#MUH.KW.Z

Selasa, 02 Oktober 2018

PESAN SPIRITUAL ALAM

Oleh :Muhammad Khalid Wahid

Gempa bumi di Lombok belum hilang dari ingatan, kini Donggala Palu Sulteng diterjang Tsunami. Menurut Sistem Peringatan Diri Tunami Indonesia (InaTEWS) BMKG pada 28/09 : 17.07 WIB sebelum Tunami terjadi gempa 7,7 SR dengan kedalaman 10 KM. Bahkan sebelumnya di berbagai wilayah juga telah terjadi berbagai musibah seperti banjir, tanah longsor dan gunung meletus.

Dalam perspektif spiritual, setiap musibah mengandung pesan langit kepada manusia di bumi. Ketika  bertebaran berbagai tindak kemaksiatan dan kezaliman, maka maknanya manusia telah sengaja mengundang azab Allah. Ketika manusia tidak lagi peduli kepada perintah dan larangan Allah, maka manusia telah membuat murkaNya.

Dalam Al Qur’an telah diceritakan bagaimana umat Nabi Nuh dengan sombongnya mengundang azab Allah dan menolak ajakan Nabi Nuh untuk kembali ke jalan Islam. Mereka mempersekusi Nabi Nuh dalam setiap dakwahnya. Maka Allahpun mendatangkan Tunami dahsyat yang menenggelamkan mereka.

Mereka berkata, “ Wahai Nuh, sungguh engkau telah berbantah dengan kami, dan engkau telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang engkau ancamkan, jika kamu termasuk orang yang benar [QS Hud : 32].

Dia (Nuh) menjawab,” Hanya Allah yang akan mendatangkan azab kepadamu, jika Dia menghendaki, dan kamu tidak akan mampu melepaskan diri [QS Hud : 33] 

Al Qur’an menggunakan istilah fasad untuk untuk menunjukkan berbagai kerusakan di muka bumi akibat tangan manusia. “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS Ar Ruum : 41)

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS Asy Syura : 30)

Para mufassir memaknai kerusakan atau fasad bermacam-macam arti. Diantaranya , segala sesuatu yang tidak tergategori sebagai kebaikan, kekurangan hujan dan sedikitnya tanaman, kelaparan dan banyaknya kemudaratan yang terjadi.

Sementara, Allah sendiri tidak pernah menzalimi manusia, bahkan justru senantiasa memberikan nikmat kepada manusia. Adapun manusia kebanyakan tidak bersyukur dan bahkan berbuat kesalahan dan kemaksiatan. Kemaksiatan adalah bentuk kezaliman kepada diri sendiri.

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. dan cukuplah Allah menjadi saksi. (QS An Nisaa : 79)

Padahal Allah-lah yang telah menciptakan manusia dan alam semesta ini. Berbagai kerusakan dan musibah yang disebabkan oleh pengingkaran terhadap hukum Allah ini telah menimbulkan kondisi kehidupan yang tidak menyenangkan, kehidupan yang terasa sempit, kehidupan yang menakutkan karena ketidakamanan dan kehidupan yang serba mengkhawatirkan.

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta". (QS Thahaa : 124)

Allah dengan tegas mengingatkan kepada manusia untuk hanya tunduk kepada aturan Allah dan tidak tunduk kepada seluruh aturan selain dari Allah. “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS An Nisaa : 59)

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya. (QS Al Hasyr : 7)

Berdasarkan Surat Ar Ruum ayat 41 diatas, maka pesan spiritual dibalik segala mancam bencana dan musibah adalah kembali kepada jalan Allah (la’allakum yarji’un). Caranya  adalah dengan taubat nashuha yakni menyesali dan mohon ampunan, berhenti melakukan kemaksiatan dan berjanji untuk tidak mengulanginya.

Dan yang paling penting dari taubat ini adalah kembali kepada aturan liahi yang bersumber pada wahyu  dalam melakukan semua perbuatan baik individu, kelompok sosial, maupun negara.

Rasulullah adalah teladan sempurna dalam berperilaku dan bersikap baik sebagai individu, keluarga, anggota masyarakat maupun sebagai pemimpin daulah. Semua perilaku Rasulullah bersumberkan kepada wahyu, bukan hawa nafsu. 

Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Qs Al A’raf : 96).

Karena itu kembali kepada jalan Allah adalah jalan utama jika menginginkan negeri ini terhindar dari segala musibah dan bencana Allah. Sebab hanya Allah yang mampu memberikan kebaikan. Sebab bumi, langit dan seluruh jagad raya adalah milik Allah.

Penulis: Muhammad Khalid Wahid
                  "Aktivis Keperawatan"

Makssar 02 oktober 2018

Rabu, 26 September 2018

JERITAN KAUM TANI

Oleh: Sevsevan Umasugi

Melihat kondisi masyarakat di Indonesia terutama kaum tani yg selalu di perbudak dan di tindas dengan segala cara oleh rejim " yg tidak bertanggung jawab atas perlakuannya menbuat lemahnya masyarakat. Dimana pertanggung jawaban atas mentri pertanian di Indonesia dalam mengawal masyarakat para kaum tani???
Dan kini mahasiswa telah bumkan telah terhipnotis dengan berbagai macam eltronik yg canggih sehingga mereka salah memamfaatkan dengan sebaik " mungkin.
Intelektul dan kritikan sudah punah di telan waktu yg terbuang dalam zona nyaman

Suda jelas di bulan September merupakan bulan yg bersejarah bagi gerakan pahlawan kaum tani di Indonesia, pasalnya, pada tahun 1958 silam, pemerintah soekarno telah menetapkan Tanggal 24 September sebagai peringatan hari tani nasional

Pilihan bulan dan tanggal itu di sesuaikan dengan momentum lahirnya undang-undang pokok agraria (uupa) tahun 1960 sebuah undang-undang yang mengusung Semangat tanah untuk rakyat.
Kenyataan bahwa (uupa) tinggal teks belaka dengan sikap pemerintah tentang kesejahteraan petani

Dimana lahirnya undang-undang yang mengusung Semangat untuk rakyat itu berada, Atau suda telah terganti menjadi semangat untuk membohongi petani, uupa kini seakan-akan telah hilang di lenyapkan oleh oknum-oknum penguasa untuk kepentingan pribadinya sendiri, mereka tau namum apatis dengan persoalan ini.

Sampai detik ini petani seindonesia sebagian besar belum merasakan kesejahteraan dari jeri payah perjuangannya yg selama ini telah di korbankan, padahal kalu kita tinjau Kembali petani adalah sebagian dari kunci kebutuhan dan perdagangan para masyarakat dan penguasa di negara kita.

Marilah selamatkan kaum tani.
Kembali teriakan suara para pencari keadilan.
Diam tertindas atau bangkit melawan
Maka ada satu kata.. LAWAN

Penulis:  Sevsevan Umasugi
               "Aktivis Keperawatan"

Muhammad Khalid Wahid
            "Pemantik"

MUTIARAH KERINGAT

Oleh: Muhammad Khalid wahid

Gelap malam penuh kesunyiaan membuka pintu-pintu ilusi menyibakan tirai-tirai kesendiriaan jiwa saat perjalanan adalah perasaan hati gelisah menjadi tumpuan perlahan-lahan rasio menjauh akalpun pergi tampa berpesan saat kusadari semuanya aku terbujur dinegeri khayalan berharap akan fatamorgana....

Setelah kubangkit kembali ilusi keterpurukan nalarpun menggetarkan jiwa, Damainya bintang-bintang dan rembulan melukiskan cita-cita dan impian desir angin malampun menembus sukmaku....

Kini kujelang pagi yang indah kembali menghampaskan mimpi, Meraih bergantinya hari tersirat cahaya kedamaian membuktikan semangat dan perlahanku berjalan dalam dunia pendidikan sekujur keringat telah membasahi tubuh berbagai pengorbanan dan perjuangan yang diperkuat dengan doa....

Tiba masa dimana tetesan keringat dalamku mengejar impian gapaian cita-citaku semuanya telah menjelma dari butiran-butiran tetesan keringat menjadi mutiarah....

Tangispun kulihat di depan mata oleh orang yang selama ini penuh makna yang hakiki dalam hayat hidupku iya adalah kedua "Orang Tuaku" dalam sedihnya dan dalam genggaman pelukannya dibalik pakean sarjanaku mengenakan toga kuterbawa hanyut dalam kesedihan....

Deraian air mata mengalir membasahi pipi dihari kebahagiaan itu terlukislah kesan indah tetesan keringat dari perjuangan serta pengorbanan atas niat yang sungguh-sungguh menjadilah mutiarah keringat dalam kehidupan....[^]

Mutiarah Keringatku Selanjutnya S1....!

Pemantik: Sriwahyuni Sahang, Amd.Kep

Penulis: Muhammad Khalid Wahid
                  "Aktivis Keperawatan"

Selasa, 25 September 2018

Mahasiswa Hilang Nalar

Oleh:Muhammad Khalid Wahid

Melihat situasi dan kondisi duni kampus saat ini citra kampus mulai perlahan hanyut di telang kemarau, tidak ada lagi dinamika secara intelektual di dalamnya penarapan-penerapan yang di terapkan tidak lain hanya sebatas metode bagaikan dewa kebenaran hanya untuk mereka saja, padahal kebenaran bukan hanya iya yang punya ideologi berdasarkan presfektifnya untuk selalu benar di muka bumi ini. mengutip kata Hasan Abu Amar "kebenaran yang mutlak hanya tuhan yang memilikinya sebagai mkhluk ciptaanya anda cuman punya dua poin kebenaran hakiki dan penerapan yang relatif" maka dapat saya menarik suatu benang merah ke angkuhan pada dirinya yang berlagak bagaikan raja memperbudak secara otoriter membungkam nalar yang alamia dimana semua insan memilikinya bagaikan kiasan modifikasi hanya iya yang mempunyai jiwa.

Mahsiswa saat ini kini telah hilang arah tak tau lagi arah dan tujuannya bahkan sudah tau malah berbalik arah,  melihat sejarah pemuda dahulunya kita tidak usah kaji lebih jauh tapi perlu diketahui untuk apa "sumpah pemuda 28 oktober" iya terlahir dari tetesan muitiara keringat, darah, dan juga air mata.

Mahasiswa tiba masa di mana suatu zaman saat ini di kategorikan moderen, melihat berbagai pergerakan mahasiswa saat ini tidak lain dan hanya sebatas hura-hura sudah tak lagi horisontal dan maupun vertikal. apakah mahasiswa pada hari ini hanya kiasan ikut-ikutan melihat kawannya yang elit masuk kampus dengan kilau mobil mewahnya singkat ngampus bergeser di mall, kini rentetan sejarah telah mencatat bahwa mahasiswa pada hari ini mengalami degradasi dan krisis moral, pergerakan mahasiswa dilahat dari sejarahnya kini telah lumpuh bagaikan tikus yang menjalar perlahan dari kakinya yang menembus nuraninya dengan material.

Berbagai kesenjangan di zaman yang moderen ini kian pesatnya modernitas yang dibawah harus globalisasi seakan menina bobokan kaum-kaum harapan bangsa dan bukan hanya itu saja mahasiswa banyak yang ikut dalam politik praktis yang hanya berkepihakan perseorangan tidak utuh dalam seluruh rakyat indonesia.

Di dalam dunia kejahatan kepercayaan dan kebenaran bersifat palsu karena yang ditampilkan hanyala citra kebenaran dan topeng kepercayaan, negeriku entah di mana lagi marwah demokrasinya yang realitanya saat ini bagaikan sejuta mesin yang dibentuk demi kepentingan personal, tumpul dan hanyutlah kesejatraan rakyat.

Mengutip kata Tan Malaka "bahwa idealismelah kemewahan pemuda yang terakhir" tapi apalah daya entah iya pura-pura ambisius ataupun memang betul idealismenya sudah benar-benar hilang, meneropong kembali tuguh-tuguh peringatan mahasiswa sperti Wiji Thukul,  sho gie, Munir, dll. mereka hilang secara tidak wajar yang tak dipeluk hukum atas keadilan sampai sekarang.

"Wiji Thukul" perna berkata Jika rakyat pergi Ketika penguasa pidato Kita harus hati-hati Barangkali mereka putus asah,
Kalau rakyat bersembunyi Dan berbisik bisik Ketika membicarakan masalahnya sendiri Penguasa harus waspada dan belajar mendengar, Bila rakyat berani mengeluh Itu artinya sudah gawat Dan bila omongan penguasaTidak boleh dibantah Kebenaran pasti terancam,
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan Dituduh subversif dan mengganggu keamanan Maka hanya ada satu kata: lawan!.

Penulis: Muhammad Khalid Wahid
                  "Aktivis Keperawatan"

Matinya Demokrasi

Ini tentu bukanlah sebatas pernyataan tetapi juga adalah satu babak baru dari kenyataan. Benar kiranya statement dari sang Amerikanis Francis Fukuyama, bahwa, demokrasi adalah menyangkut perkara ummat sejagat. Pernyataan ini bisa dipahami sebagai penekanan bahwa sepertinya demokrasi adalah jalan tengah dan solusi terbaik bagi keberlangsungan tata kelola dunia. Perlu pengayaan lebih mendalam terkait bagaimana demokrasi dijadikan sistem dunia dari sepertiga dunia, lalu dimana ideologi dunia lainnya ?

Karenanya, sebagai suatu sistem tata kelola dunia, maka demokrasi sepertinya mengalami “diatruption”, korpus demokrasi perlahan mengalami alienasi, sebab konsep ini bergeser oleh siapa yang dibalik kepentingan itu. Demokrasi yang dipahami dari awal sebagai instrumen politik dari, oleh dan untuk rakyat, kini telah “berdiam” dalam lemari kaca sebatas assesoris belaka. Sebab pemaknaan demokrasi semakin liar tergantung kekuasaan menafsirkannya.

Tafsir tunggal atas ideologi termasuk demokrasi sangat ditentukan oleh si pengambil kebijakan. Suara rakyat kini mengalami “penyumbatan”, dan bahkan ada yang hanya mendapat hadiah tepuk tangan. Fenomena demokrasi pada prinsipnya telah berhasil membangun perubahan sosial, yang dibuktikan dengan tradisi politik yang terus bergerak secara dinamis.

Politik yang digelar secara langsung juga bukan “ruang” satu-satunya untuk menilai apakah masyarakat sudah teredukasi secara politik atau tidak. Padahal kemajuan suatu demokrasi sangat ditentukan oleh tingkat kecerdasan bukan semata modal partisipasi. Sebab seseorang bisa berpartisipasi karena, iming-iming serta janji yang menjanjikan.

Pilkada serentak begitu nampak bagaimana setiap orang mengangkat tema demokrasi, tetapi lupa membangun peradaban politik. Saat ini tidak sedikit tokoh yang tersandera karena tidak memiliki cukup uang untuk membeli partai politik. Bahkan ada yang harus memilih jalur independen karena disinyalir parpol main mata atas harga yang dibebankan kepada kandidat. Bukankah ini satu proses penciptaan korupsi dari awal ? transaksi dan menyandera.

Tetapi deparpolisasi adalah satu kenyataan politik yang harus dimainkan sebab konstitusi juga memberi ruang, walau pada prinsipnya perhelatan lewat perseorangan begitu berat, bukan hanya berat untuk menang, tetapi juga berat dibiaya politik, sementara data membuktikan sejak pilkada digelar sejak tahun 2005 yang lalu, hanya 2 % saja tingkat menang yang memilih jalu independen.

Namun yang jadi problemnya adalah, budaya politik transaksional telah merusak marwah demokrasi. Bahkan nyaris situasi menjelang pilkada digelar, kecemasan kembali muncul dengan mempersiapkan orbituari demokrasi yakni pengumuman akan kematian demokrasi. Yang pada akhirnya kuburan massal demokrasi akan ditemukan dari kejahatan politik dengan konsep menang tetapi meniadakan hakekat kemanusiaan, termasuk hak politik seseorang.

Inikah jawabannya bahwa demokrasi itu mahal ? tak perlu dijawab sebab ini kekuasaan telah ceroboh menepikan demokrasi dipinggir panggung publik.(*)

Penulis: Muhammad khalid wahid

TANGIS REVOLUSI

Muhammad Khalid Wahid

Saat air lebih langka dari air mata
Saat udara harus kau beli
Saat bunga bunga tinggal cerita
Akankah akhirnya kita sadari

Saat senyuman lebih langka dari amarah
Saat nyawa nyaris tak berharga
Saat dunia merintih pedih
Akankah akhirnya kita sadari

Akan datang masa dimana kita
Hanya mampu berkeluh dan menyesal
Berharap doa dapat memutar waktu
Percayalah waktu masih tersisa
Percayalah hanya kita yang bisa
Beri nyawa segala harapan

Saat kejujuran sudah tak tersisa
Saat manusia hidup tanpa hati
Saat membenci terasa nyaman
Saling menyakiti terlihat wajar.

Muhammad khalid wahid "Corona dalam virus arus globalisasi"

seiring berjalannya zaman kita tidak terlepas dari pesatnya arus globalisasi dan bisa kita lihat berbagai info belahan dunia seiring berjala...

matinya demokrasi