Senin, 23 September 2019

Ironi Negriku


Tuan, entah sepert apai harus ku tuliskan sebagai kata duka atas bangsa ini?. Hari ini di bagian barat Indonesia ribuan Mahasiswa telah turung sisingkan lengang baju dalam satu barisan  mengwarnai jalan dengan berbagai baju kebanggaan, dan di bagian timur Indonesia tak kalah warnainya aspal jalanan namun merah darah dan teriakan tangis berkomandang lebih luas.

Tuan, jika memamg ini adalah bentuk melepaskan diri dari negara berkembang untuk menjadi negara maju, aku lebih memilih tetap menjadi tinggal di negara berkembang dari pada rakyat dan alam menjadi tumbal ke inginan itu.

Selasa, 10 September 2019

Pendidikan kampus saat ini

Oleh:Muh.Khalid Wahid Zainuddin
Pendidikan adalah ladang atau tempat di mana para penempuh pendidikan dapat merasakan kesuksesan. Itulah pemahaman yang beredar di tengah-tengah masyarakat luas saat ini. Pendidikan identik dengan perubahan regulasi, padahal perubahan regulasi mungkin melahirkan sistem yang mungkin membuat mahasiswa tidak tenang dan tertekan karena sistem pendidikannya.
Perlu kita ketahui, bahwa sistem pendidikan bukan untuk diperjual-belikan seperti barang (komoditi). Tetapi harus berjalan secara antropologis terhadap sistem pendidikan pada saat ini yang berubah fungsinya.
Seharusnya sistem pendidikan harus merata untuk semua anak bangsa tanpa terkecuali. Tapi saat ini, kenyataannya hanya orang-orang mampu yang dapat menikmati pendidikan. Pada masa penjajahan feodal, masyarakat tidak memahami bagaimana cara menulis dan membaca, apalagi merumitkan pikiran merancang sebuah sistem pendidikan.
Berlandaskan kelemahan tenaga produktif dan pendidikan di Indonesia pada saat itu, kaum feodal akhirnya mendirikan sekolah agar mereka dapat menekan biaya produksi pabrik untuk memajukan pendapatan pabrik yang beroperasi di Indonesia (Dengan mendirikan sekolah, yang dapat menghasilkan juru tulis, feodal tak perlu lagi mendatangkan juru tulis dari negerinya sendiri sehingga biaya sekolah pada saat itu begitu tinggi).
Kebijakan Belanda mendirikan sekolah ini kemudian dikenal dengan politik etis (Politik balas budi). Dalam perjalanan mendirikan pendidikan di zaman penjajahan feodal, masih bersifat diskriminatif terhadap rakyat pribumi atau rakyat Indonesia. Di mana anak-anak yang dapat menikmati pendidikan hanya golongan tertentu saja, seperti para bangsawan pribumi, anak-anak pejabat, dan anak-anak para kaum feodal itu sendiri.
Penjajahan feodal memang sudah hilang di bumi nusantara ini, namun tidak untuk pendidikan yang diskriminatif itu. Saat ini kita masih dapat menyaksikan sejumlah anak-anak dari kalangan para petani, nelayan, dan buruh (akar rumput) tak dapat menikmati pendidikan sampai jenjang perguruan tinggi. Sebab pendidikan di negeri ini sudah dijadikan komoditi, yang bagi siapa saja ingin menikmatinya harus menggelontorkan dana sebanyak mungkin. Semakin banyak uang yang dikeluarkan maka semakin berkualitaslah pendidikan yang didapatkan.
Tak sampai di situ saja, selain pendidikan di Indonesia yang terbilang sangat mahal, sistem pendidikan yang ada di Indonesia juga memakai pandangan yang membodohkan para peserta didik. Sebab teori pendidikan di Indonesia menggunakan pandangan tradisional-konservatif. Pandangan ini menyiratkan pendidikan harus bersendikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi sekaligus teruji oleh waktu, pandangan ini disebut: Esensialisme.
Pendidikan harus berupaya mengembangkan akal budi manusia semaksimal mungkin. Sistem pendidikan yang menjadi pusat ilmu pengetahuan, membuat para pendidik merongrong mahasiswa sehingga tidak mampu untuk berkutik dan tidak bisa berbuat apa-apa. Pandangan ini disebut perenialisme atau yang kita kenal sebagai kekeliruan dalam berpikir. Kedua pandangan ini berada pada teori tradisional konservatif yang mana teori ini menekankan manusia menjadi mahluk yang terbatas, sehingga keberadaan manusia dianggap memiliki peranan sebagai penghayat, pelaksana, dan sebagai pengembang kehidupan.
Pendidikan sebagai subyek pembawa nilai dan norma budaya menduduki posisi sentral dalam proses pendidikan. Pandangan tentang pendidikan semacam ini pada peraktiknya, kaum kapitalis cenderung bersifat otoriter dan menghalangi peserta didik untuk berkembang dan kritis melihat situasi sosial di sekitar mereka. Aktivitas pendidikan kemudian dibelokkan menjadi para kaum terdidik yang hedonis dan berpikir terbatas.
Dalam teori ini kita bisa melihat contohnya di Indonesia. Sistem pendidik seperti malaikat yang tak bisa dibantahkan. Ketika tenaga pengajar (dosen) dan para petinggi kampus sudah berbicara, mahasiswa patut diam dan mendengarkan. Padahal dari sekian banyak yang mereka bicarakan sangat jauh dari realitas kemahasiswaan yang sebenarnya harus kritis terhadap kondisi sosialnya. Lenin pernah berkata “Kita tak dapat memercayai pengajaran, pelatihan, dan pendidikan apabila mereka membatasi hanya pada ruang sekolah dan dipisahkan dari proses kehidupan masyarkat terdidik.”
Pandangan yang membuat peserta didik menjadi pendengar setia dan penikmat pendidikan, dalam pengaruhnya membuat metode belajar yang ada menjadi metode kapitlistik, misalnya metode belajar yang diterapkan oleh para guru dan dosen di Indonesia sangat monoton. Seorang guru dan dosen hanya menjelaskan materi mata kuliahnya tanpa meminta peserta didik untuk berbicara sesuai dengan isi kepalanya.
Di dalam prakteknya, metode belajar di Indonesia cenderung membatasi peserta didik untuk mengeluarkan pendapatnya di dalam ruangan kelas, hasilnya peserta didik hanya diam dan terus setia menjadi pendengar para “Malaikat” berbicara di depan ruangan kelas.
Para peserta didik saat ini menjadi apatis, hedon, dan pragmatis (tak peduli) terhadap lingkungan sosialnya. Para dosen tak pernah bicara tentang realitas sosial yang ada. Sementara para mahasiswa tak dapat berpikir bebas. Akhirnya pandangan para mahasiswa terhadap ruang kelas hanya sebagai tempat untuk dia mendapatkan selembar ijaza yang nantinya akan membuat orang tua mahasiswa bangga dengan anaknya.
Selain mendapatkan pengakuan dari orang tuanya, moto para mahasiswa belajar juga untuk menjaga gengsi setiap mahasiswa lain dan para orang tuanya, yang nantinya ijazah yang ia punya hanya jadi pajangan cerita bahwa dia adalah sarjanawan dan akan dipajang di dalam ruang tamu rumahnya.
Tidak hanya sebatas menjaga gengsi, hasil sistem pendidikan yang membodohkan itu juga membuat mahasiswa terlati sebagai penipu di dalam ruang kelas, tak berani jujur, (mencotek saat lagi ujian), akibat dari pendidikan yang tidak melati mahasiswanya untuk berpikir mandiri dan yang paling parah, hasil dari pendidikan yang membodohkan membuat para mahasiswa menjadi calon-calon pekerja yang dibayar murah oleh perusahaan, dengan gaji rendah, mereka tak merontak, itu akibat tak adanya daya kritis yang didapat semasa mahasiswa di dalam ruang kelas.

Muhammad khalid wahid "Corona dalam virus arus globalisasi"

seiring berjalannya zaman kita tidak terlepas dari pesatnya arus globalisasi dan bisa kita lihat berbagai info belahan dunia seiring berjala...

matinya demokrasi