Rabu, 24 Oktober 2018

INDUSTRIALISASI AGAMA

Oleh: Muhammad Khalid Wahid

Study fenomenologi agama nampaknya memiliki tema baru yang bisa di dalami dalam konteks prilaku keberagamaan di Indonesia. Benarkah agama terutama Islam telah mengalami proses industrialisasi di Indonesia?. Demikian hipotesis yang bisa diangkat melihat maraknya penonjolan simbol-simbol agama yang akhir-akhir ini mengisi etalase-etalase pada ruang diskusrus maupun pada langgam politik di tanah air.

Fenomena industrialisasi agama itu misalnya terlihat dari penerbitan alat alat peraga sosialisasi para calon dalam berbagai even-even politik, dari pilkada, pemilu legislatif hingga pilpres. Organisasi-organisasi berciri keagamaan baik pada level civil society, maupun partai politik berciri agama memproduksi simbol-simbol agama secara massif guna menarik perhatian konstituen sebagai pembeli produk.

Bukan hanya simbol yang telah berakulturasi secara budaya, namun juga kegiatan kegiatan keagamaan memiliki daya jual yang tinggi bagi politisi.

Yang teranyar kita saksikan bagaimana kalimat paling sakral dalam agama Islam, kalimat tauhid, di cetak secara massif menjadi aksesoris bendera, spanduk, dan topi. Suvenir yang mereka beri nama "topi tauhid" "bendera tauhid" itu di jual dan ditawarkan kpd konstituen yang ingin membeli.

Aneka pakaian seperti sarung, sajadah, mukena di beli para caleg atau politisi guna di barter dengan suara di dapil mereka.

Singkatnya, fenomena industrialisasi agama itu dapat dijadikan objek kajian mendalam untuk mengetahui apa dan bagaimana sehingga muncul fenomena seperti itu. Apakah itu menunjukkan bahwa sakralitas agama semakin memudar, akibat terjadinya kegersangan spritualitas, atau apakah itu semata fenomena pemanfaatan agama untuk tujuan mengecoh para pemilih ?

Yang pasti fenomena itu menunjukkan satu hal; pemahaman akan tauhid Islam, akidah islam masyarakat muslim di tanah air perlu terus ditingkatkan.

Minggu, 21 Oktober 2018

Demonstrasi yang mana?

Oleh:Muhammd Khalid Wahid

Kali ini penulis mencoba sedikit menjabarkan perihal gerakan-gerakan aksi demontrasi mahasiswa di era milenial ini, melihat kejadian yang sempat beberapa kali menjadi bahan renungan bagi penulis tentang gerakan aksi Mahasiswa Seluruh indonesia pada umumnya, dan pada khususnya mahasiswa di Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Selalu terbesik di fikiran, karena gerakan yang sering di lakukan mahasiswa yakni Demontrasi, memblokade jalan, membakar ban, orasi dengan lantang, bentrok dengan aparat keamanan dan lain sebagainya. Sebagai bentuk implementasi kegelisahan sebagai seorang mahasiswa yang sadar akan kerancuan pemerintah dalam mengelola negeri ini, melihat sejarah ketika gerakan Mahasiswa jaman dulu merasakan ketimpangan atau ketidakstabilan pemerintah dalam mengelola negeri, mereka semua turun kejalan bahkan yang terjadi gerakan mahasiswa terbesar pada tahun 98 ketika mencoba menurunkan Presiden Soeharto yang pada waktu rezim itu memimpin 32 tahun lamanya. Tetapi dengan adanya gerakan mahasiswa dengan menduduki gedung MPR, maka siapapun dia akan turun.

Nah menarik,di jaman sekarang yang saya lihat mahasiswa yang sadar akan ketimpangan Negara kita sangat minim sekali, sekali lagi saya cuman bisa bilang, bahwa yang menjadikan mahasiswa seperti itu adalah sifat komsumtifnya dan hedonismenya yang membuat akar-akar ke apatisan muncul pada dirinya, sehingga ketika tidak terkena masalah itu dia acuh tak acuh saja.

Yah, lanjut terkait gerakan mahasiswa hari ini saya rasa tidak efektif lagi, mengapa demikian?? Mahasiswa yang turun ke jalan hanya sebahagiaan saja, yang sadar akan hal itu sangat minim, di tambah lagi aksi yang kurang di senangi oleh para masyarakat karena terganggunya ketika menggunakan jalan. Teriak sana sini dengan lantang menggunakan megaphon itu sebenarnya sedang meneriaki siapa? Nah para Birokrat bajingan itu hanya sekedar mendengar saja, itupun kalau terdengar, karena mereka hanya duduk santai di ruangan yang megah dan mewah sambil menghitung uang yang bisa di colek lagi masuk ke rekeningnya. Iya ini fakta. Terkadang saya berfikir bahwa gerakan mahasiswa dengan sekedar berkoar dengan baik di depan gedung DPRD ataupun gedung lainnya hanya angin lewat saja, anarkis pun tetap seperti itu ,nyatanya para aparat menghajar bahkan menghalangi aksi aksi nyata mahasiswa ! Saya rasa gerakan gerakan demikian sudah tak efektif lagi, lalu adakah solusi untuk itu?? Tak ada perubahan sedikitpun, bahkan isu yang di angkat dari beberapa gerakan itu hanya seperti debu di hampas angin sepoi . Sampai sekarang saya masih bingung dengan hal itu, negeri ini sudah terlalu bajingan, para pemimpin dengan gagah beraninya bersumpah di atas kitab suci Al qur’an maupun Bibel tetap saja melanggar, karena mereka tak pernah takut Tuhan, berilmu Iya, Sekolah tinggi s1,s2,s3 bahkan Menyandang gelar Prof masih buta akan apa yang harus ia lakukan demi kebaikan negeri ini ! Tapi lebih tepatnya menyalahgunakan pengetahuan yang selama ini mereka dapatkan, lantas sampai kapan negeri ini akan begini??

Akankah Ada Gerakan Seluruh Mahasiswa Indonesia Terbesar Yang akan terjadi lagi seperti 98 ?

Akankah ada mahasiswa yang mengaku agent of change melakukan Perubahan bagi Negerinya???

Akankah semuanya merasa risih bahkan marah ketika mendengar ketimpangan pemerintah dalam mengelola negeri ini??

Lantas dimana letak arti negara Demokrasi dan Hukum Nya Negeri Ini??

Akankah mereka lebih gelisah ketika hak rakyat di injak injak bahkan hak dan martabat mereka di rampas, atau nilai mereka di ancam eror ketika mencoba turun menyuarakan kebenaran?

Sangat banyak kegelisahan penulis yang tak bisa di ungkapkan, tulisan di atas hanya sebagian besar dan kecil untuk di gambarkan, karena baik nya suatu negeri kedepan ada pada tangan – tangan pemuda dan pemudinya hari ini !

Kamis, 18 Oktober 2018

IDEOPOLITOR-STRATAK SEBAGAI PISAU ANALISIS INTELEKTUAL MUDA UNTUK MEWUJUDKAN PEMIMPIN TRANSFORMATIF

Oleh: Alumnus Zainuddin

Diawali dari pengetahuan manusia terhadap realitas, merupakan bukti bahwa kecenderungan dalam mencari serta menemukan kebenaran sebagai media dalam mencapai tujuan adalah fitrah manusia. Termasuk wilayah pengetahuan yang akan bersama-sama dikaji dalam Intermediate Training ini, yaitu ideologi, politik serta strategi dan taktik (Ideopoltor-Stratak).
Berbicara soal ideopolitor-setratak tidak lepas dari wilayah kajian politik, namun perlu difahami bahwa politik yang dimaksud adalah sebatas pengetahuan atau ilmu politik, bukan politik praktis. Karena HMI adalah organisasi mahasiswa yang bersifat perkaderan dan perjuangan (AD HMI Bab IV Pasal 7,8,9) bukan partai politik ataupun organisasi yang berafiliasi atau bahkan menjadi underbow partai politik yang memiliki kepentingan mutlak demi kekuasaan. Politik adalah Sebagai media dalam mencapai tujuan, politik bukan lagi merupakan istilah yang asing atau bahkan tabu bagi kalangan mahasiswa. Namun hal penting yang harus difahami terkait dalam perjuangan politik adalah landasan gerak (epistemology, pandangan dunia dan ideologi), manusianya (kader), serta strategi dan taktik.
Kajian ideopolitor stratak akan nampak dalam kehidupan diantaranya adalah bagaimana kekuatan ideologi yang dimiliki dapat diaplikasikan dan diwujudkan secara nyata dengan menggunakan politik melalui strategi dan taktik yang elegan dan rapi, sehingga tujuan daripada yang diharapkan dapat tercapai dengan baik.
Berangkat dari ideologi yang kuat yang telah mendarah-daging dan dilandasi dengan ketauhidan yang kokoh pula serta memiliki pisau analisis yang tajam untuk mengamalkan dalam karya nyata maka kiranya pelu memiliki alat dan pakem yang tepat, yakni dengan menggunakan politik dan strategi yang tepat pula, agar apa yang direncanakan dalam tercapai sesuai harapan. Namun tidak selesai pada tataran idiologi, politik, dan strategi yang matang saja, tapi sebagai eksekutornya tetap dibutuhkan seseorang dengan mental pelopor, visioner dan memiliki kesadaran tanggung jawab individu dan sosial, yaitu seorang yang memiliki jiwa “kepemimpinan transformatif”, dalam hal ini adalah “pemimpin muda” dan tentunya embrio pemimpin muda yang ideal berasal dari HMI.
Menyoal tentang pemimpin transformative, ia adalah pemimpin yang menggunakan karisma mereka untuk melakukan transformasi dan merevitalisasi organisasinya. Dan ia lebih mementingkan revitalisasi para pengikut dan organisasinya secara menyeluruh ketimbang memberikan instruksi-instruksi yang bersifat top-down. Pemimpin yang transformatif lebih memposisikan diri mereka sebagai mentor yang bersedia menampung aspirasi para bawahannya.
Dalam perspektif kepemimpinan transformatif, sekat yang membatasi antara peran kaum muda dan golongan tua sejatinya justru menjadi jembatan dalam melakukan proses transformasi kepemimpinan. Persoalan sesungguhnya bukan terletak pada kutub perbedaan cara pandang antara kaum muda versus kaum tua,antara prokemapanan versus properubahan. Persoalan sesungguhnya justru terletak pada bagaimana membangun mekanisme dan sistem transformasi kepemimpinan. Hal itu hanya bisa berjalan jika ada visi dan konsistensi yang kuat dalam jiwa seorang pemimpin. Dan, itu bukan monopoli kaum tua atau kaum muda saja. Tidak hanya itu, pemimpin transformatif mampu membaca peluang dan situasi yang ada, dan kemudian membuat langkah-langkah yang strategis guna mewujudkan cita-citanya.
Sejarah tidaklah berhenti pada satu noktah generasi. Sejarah akan terus menghadirkan tokoh dan pemimpinnya. Sejarah pula yang akan membuktikan apakah seorang pemimpin akan tercatat dengan tinta emas atau tinta hitam penuh bercak. Pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang berhasil melahirkan pemimpin yang melebihi kemampuannya.

STRATAK hanya boleh dipelajari oleh kader HMI yang militan dan bermental pelopor, kader yang telah memiliki kesadaran ideologi dan organisasi serta sanggup berfikir politis realistis.
Seorang yang penakut, menghindari resiko dan lebih mengedepankan kepentingan pribadi dari pada kepentingan perjuangan “HARAM” mempelajari STRATAK.
STRATAK adalah modal untuk bergerak dengan “elegan” dan penuh perhitungan yang matang, tidak sembrono, anarkis dan nyelonong “offside” serta tidak bertindak radikal ekstrem yang ngawur dan nekad.
Pokok Pembahasan

* Ideopolitor-Stratak
* Pemimpin Transformatif

I.  IDEOLPOLITOR STRATAK
A. Pengertian ideopolitor-stratak
1.      Ideologi
Ideologi berasal dari bahasa Yunani dan merupakan gabungan dari dua kata yaitu edios yang artinya gagasan atau konsep dan logos yang berarti ilmu. Pengertian ideologi secara umum adalah sekumpulan ide, gagasan, keyakinan dan kepercayaan yang menyeluruh dan sistematis. Dalam arti luas, ideology adalah pedoman normatif yang dipakai oleh seluruh kelompok sebagai dasar cita-cita, nila dasar dan keyakinan yang dijunjung tinggi. Pada wilayah ideologi, tauhid jelas haruslah menjadi dasar utamanya (sumber). Bagaimana pemahaman kader maupun manusia secara umum tentang Tauhid menjadi dasar dari epistemologinya. Sehingga dengan pengetahuan yang bersumber dari Tauhid tersebut akan dapat menghasilkan pandangan dunia yang objektif. Selanjutnya pandangan dunia atau cara memahami realitas tersebut yang nantinya sebagai perangkat ideologi. Jika lebih disederhanakan lagi, ideologi sangatlah penting dalam perjuangan politik, sebab ideologi sebagai landasan setiap gerak yang akan diaktualisasikan.


Penulis: Muhmmad Khalid Wahid

                 "Aktivis Keperawatan"

DENYUT NADI

Oleh: Muhammad Khalid Wahid

jiwa tak bernalar lagi....
nalar tak berasio lagi...
rasio tak berakal lagi...
akalpun tak berpesan lagi....

nalar kini hilang arah tumpuan perlahan-lahan rasio menjauh akalpun pergi tampa berpesan meninggalkan kesakitan sukma

tetapi nadi masi saja tetap berdenyut kencang diterpa semerbak angin bersama debar paling sempurna

misteri datang kembali, kubangkit dalam keterpurukan dikiasih impian yang datang dengan penuh misteri-misterinya

oh... kaulah debar debarku,kaulah denyut nadiku,dan kaulah pembangkit penggetaran jiwaku

dunia takan melupa karena hidup tampa perjuangan adalah hidup yang tak layak di jalani

sejarahkan mencatat dan membingkai syair-syair cinta suci kita

karena nadi masi saja tetap berdenyut di kandung hayat,  kaulah utuh terpatri dalam jiwaku.

Gowa, 18 oktober 2018

#MUH.KW.Z

Selasa, 02 Oktober 2018

PESAN SPIRITUAL ALAM

Oleh :Muhammad Khalid Wahid

Gempa bumi di Lombok belum hilang dari ingatan, kini Donggala Palu Sulteng diterjang Tsunami. Menurut Sistem Peringatan Diri Tunami Indonesia (InaTEWS) BMKG pada 28/09 : 17.07 WIB sebelum Tunami terjadi gempa 7,7 SR dengan kedalaman 10 KM. Bahkan sebelumnya di berbagai wilayah juga telah terjadi berbagai musibah seperti banjir, tanah longsor dan gunung meletus.

Dalam perspektif spiritual, setiap musibah mengandung pesan langit kepada manusia di bumi. Ketika  bertebaran berbagai tindak kemaksiatan dan kezaliman, maka maknanya manusia telah sengaja mengundang azab Allah. Ketika manusia tidak lagi peduli kepada perintah dan larangan Allah, maka manusia telah membuat murkaNya.

Dalam Al Qur’an telah diceritakan bagaimana umat Nabi Nuh dengan sombongnya mengundang azab Allah dan menolak ajakan Nabi Nuh untuk kembali ke jalan Islam. Mereka mempersekusi Nabi Nuh dalam setiap dakwahnya. Maka Allahpun mendatangkan Tunami dahsyat yang menenggelamkan mereka.

Mereka berkata, “ Wahai Nuh, sungguh engkau telah berbantah dengan kami, dan engkau telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang engkau ancamkan, jika kamu termasuk orang yang benar [QS Hud : 32].

Dia (Nuh) menjawab,” Hanya Allah yang akan mendatangkan azab kepadamu, jika Dia menghendaki, dan kamu tidak akan mampu melepaskan diri [QS Hud : 33] 

Al Qur’an menggunakan istilah fasad untuk untuk menunjukkan berbagai kerusakan di muka bumi akibat tangan manusia. “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (QS Ar Ruum : 41)

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). (QS Asy Syura : 30)

Para mufassir memaknai kerusakan atau fasad bermacam-macam arti. Diantaranya , segala sesuatu yang tidak tergategori sebagai kebaikan, kekurangan hujan dan sedikitnya tanaman, kelaparan dan banyaknya kemudaratan yang terjadi.

Sementara, Allah sendiri tidak pernah menzalimi manusia, bahkan justru senantiasa memberikan nikmat kepada manusia. Adapun manusia kebanyakan tidak bersyukur dan bahkan berbuat kesalahan dan kemaksiatan. Kemaksiatan adalah bentuk kezaliman kepada diri sendiri.

Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. dan cukuplah Allah menjadi saksi. (QS An Nisaa : 79)

Padahal Allah-lah yang telah menciptakan manusia dan alam semesta ini. Berbagai kerusakan dan musibah yang disebabkan oleh pengingkaran terhadap hukum Allah ini telah menimbulkan kondisi kehidupan yang tidak menyenangkan, kehidupan yang terasa sempit, kehidupan yang menakutkan karena ketidakamanan dan kehidupan yang serba mengkhawatirkan.

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta". (QS Thahaa : 124)

Allah dengan tegas mengingatkan kepada manusia untuk hanya tunduk kepada aturan Allah dan tidak tunduk kepada seluruh aturan selain dari Allah. “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”. (QS An Nisaa : 59)

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya. (QS Al Hasyr : 7)

Berdasarkan Surat Ar Ruum ayat 41 diatas, maka pesan spiritual dibalik segala mancam bencana dan musibah adalah kembali kepada jalan Allah (la’allakum yarji’un). Caranya  adalah dengan taubat nashuha yakni menyesali dan mohon ampunan, berhenti melakukan kemaksiatan dan berjanji untuk tidak mengulanginya.

Dan yang paling penting dari taubat ini adalah kembali kepada aturan liahi yang bersumber pada wahyu  dalam melakukan semua perbuatan baik individu, kelompok sosial, maupun negara.

Rasulullah adalah teladan sempurna dalam berperilaku dan bersikap baik sebagai individu, keluarga, anggota masyarakat maupun sebagai pemimpin daulah. Semua perilaku Rasulullah bersumberkan kepada wahyu, bukan hawa nafsu. 

Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Qs Al A’raf : 96).

Karena itu kembali kepada jalan Allah adalah jalan utama jika menginginkan negeri ini terhindar dari segala musibah dan bencana Allah. Sebab hanya Allah yang mampu memberikan kebaikan. Sebab bumi, langit dan seluruh jagad raya adalah milik Allah.

Penulis: Muhammad Khalid Wahid
                  "Aktivis Keperawatan"

Makssar 02 oktober 2018

Muhammad khalid wahid "Corona dalam virus arus globalisasi"

seiring berjalannya zaman kita tidak terlepas dari pesatnya arus globalisasi dan bisa kita lihat berbagai info belahan dunia seiring berjala...

matinya demokrasi