Selasa, 25 September 2018

Mahasiswa Hilang Nalar

Oleh:Muhammad Khalid Wahid

Melihat situasi dan kondisi duni kampus saat ini citra kampus mulai perlahan hanyut di telang kemarau, tidak ada lagi dinamika secara intelektual di dalamnya penarapan-penerapan yang di terapkan tidak lain hanya sebatas metode bagaikan dewa kebenaran hanya untuk mereka saja, padahal kebenaran bukan hanya iya yang punya ideologi berdasarkan presfektifnya untuk selalu benar di muka bumi ini. mengutip kata Hasan Abu Amar "kebenaran yang mutlak hanya tuhan yang memilikinya sebagai mkhluk ciptaanya anda cuman punya dua poin kebenaran hakiki dan penerapan yang relatif" maka dapat saya menarik suatu benang merah ke angkuhan pada dirinya yang berlagak bagaikan raja memperbudak secara otoriter membungkam nalar yang alamia dimana semua insan memilikinya bagaikan kiasan modifikasi hanya iya yang mempunyai jiwa.

Mahsiswa saat ini kini telah hilang arah tak tau lagi arah dan tujuannya bahkan sudah tau malah berbalik arah,  melihat sejarah pemuda dahulunya kita tidak usah kaji lebih jauh tapi perlu diketahui untuk apa "sumpah pemuda 28 oktober" iya terlahir dari tetesan muitiara keringat, darah, dan juga air mata.

Mahasiswa tiba masa di mana suatu zaman saat ini di kategorikan moderen, melihat berbagai pergerakan mahasiswa saat ini tidak lain dan hanya sebatas hura-hura sudah tak lagi horisontal dan maupun vertikal. apakah mahasiswa pada hari ini hanya kiasan ikut-ikutan melihat kawannya yang elit masuk kampus dengan kilau mobil mewahnya singkat ngampus bergeser di mall, kini rentetan sejarah telah mencatat bahwa mahasiswa pada hari ini mengalami degradasi dan krisis moral, pergerakan mahasiswa dilahat dari sejarahnya kini telah lumpuh bagaikan tikus yang menjalar perlahan dari kakinya yang menembus nuraninya dengan material.

Berbagai kesenjangan di zaman yang moderen ini kian pesatnya modernitas yang dibawah harus globalisasi seakan menina bobokan kaum-kaum harapan bangsa dan bukan hanya itu saja mahasiswa banyak yang ikut dalam politik praktis yang hanya berkepihakan perseorangan tidak utuh dalam seluruh rakyat indonesia.

Di dalam dunia kejahatan kepercayaan dan kebenaran bersifat palsu karena yang ditampilkan hanyala citra kebenaran dan topeng kepercayaan, negeriku entah di mana lagi marwah demokrasinya yang realitanya saat ini bagaikan sejuta mesin yang dibentuk demi kepentingan personal, tumpul dan hanyutlah kesejatraan rakyat.

Mengutip kata Tan Malaka "bahwa idealismelah kemewahan pemuda yang terakhir" tapi apalah daya entah iya pura-pura ambisius ataupun memang betul idealismenya sudah benar-benar hilang, meneropong kembali tuguh-tuguh peringatan mahasiswa sperti Wiji Thukul,  sho gie, Munir, dll. mereka hilang secara tidak wajar yang tak dipeluk hukum atas keadilan sampai sekarang.

"Wiji Thukul" perna berkata Jika rakyat pergi Ketika penguasa pidato Kita harus hati-hati Barangkali mereka putus asah,
Kalau rakyat bersembunyi Dan berbisik bisik Ketika membicarakan masalahnya sendiri Penguasa harus waspada dan belajar mendengar, Bila rakyat berani mengeluh Itu artinya sudah gawat Dan bila omongan penguasaTidak boleh dibantah Kebenaran pasti terancam,
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan Dituduh subversif dan mengganggu keamanan Maka hanya ada satu kata: lawan!.

Penulis: Muhammad Khalid Wahid
                  "Aktivis Keperawatan"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Muhammad khalid wahid "Corona dalam virus arus globalisasi"

seiring berjalannya zaman kita tidak terlepas dari pesatnya arus globalisasi dan bisa kita lihat berbagai info belahan dunia seiring berjala...

matinya demokrasi