Oleh: Muhammad Khalid Wahid
Study fenomenologi agama nampaknya memiliki tema baru yang bisa di dalami dalam konteks prilaku keberagamaan di Indonesia. Benarkah agama terutama Islam telah mengalami proses industrialisasi di Indonesia?. Demikian hipotesis yang bisa diangkat melihat maraknya penonjolan simbol-simbol agama yang akhir-akhir ini mengisi etalase-etalase pada ruang diskusrus maupun pada langgam politik di tanah air.
Fenomena industrialisasi agama itu misalnya terlihat dari penerbitan alat alat peraga sosialisasi para calon dalam berbagai even-even politik, dari pilkada, pemilu legislatif hingga pilpres. Organisasi-organisasi berciri keagamaan baik pada level civil society, maupun partai politik berciri agama memproduksi simbol-simbol agama secara massif guna menarik perhatian konstituen sebagai pembeli produk.
Bukan hanya simbol yang telah berakulturasi secara budaya, namun juga kegiatan kegiatan keagamaan memiliki daya jual yang tinggi bagi politisi.
Yang teranyar kita saksikan bagaimana kalimat paling sakral dalam agama Islam, kalimat tauhid, di cetak secara massif menjadi aksesoris bendera, spanduk, dan topi. Suvenir yang mereka beri nama "topi tauhid" "bendera tauhid" itu di jual dan ditawarkan kpd konstituen yang ingin membeli.
Aneka pakaian seperti sarung, sajadah, mukena di beli para caleg atau politisi guna di barter dengan suara di dapil mereka.
Singkatnya, fenomena industrialisasi agama itu dapat dijadikan objek kajian mendalam untuk mengetahui apa dan bagaimana sehingga muncul fenomena seperti itu. Apakah itu menunjukkan bahwa sakralitas agama semakin memudar, akibat terjadinya kegersangan spritualitas, atau apakah itu semata fenomena pemanfaatan agama untuk tujuan mengecoh para pemilih ?
Yang pasti fenomena itu menunjukkan satu hal; pemahaman akan tauhid Islam, akidah islam masyarakat muslim di tanah air perlu terus ditingkatkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar