Minggu, 21 Oktober 2018

Demonstrasi yang mana?

Oleh:Muhammd Khalid Wahid

Kali ini penulis mencoba sedikit menjabarkan perihal gerakan-gerakan aksi demontrasi mahasiswa di era milenial ini, melihat kejadian yang sempat beberapa kali menjadi bahan renungan bagi penulis tentang gerakan aksi Mahasiswa Seluruh indonesia pada umumnya, dan pada khususnya mahasiswa di Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Selalu terbesik di fikiran, karena gerakan yang sering di lakukan mahasiswa yakni Demontrasi, memblokade jalan, membakar ban, orasi dengan lantang, bentrok dengan aparat keamanan dan lain sebagainya. Sebagai bentuk implementasi kegelisahan sebagai seorang mahasiswa yang sadar akan kerancuan pemerintah dalam mengelola negeri ini, melihat sejarah ketika gerakan Mahasiswa jaman dulu merasakan ketimpangan atau ketidakstabilan pemerintah dalam mengelola negeri, mereka semua turun kejalan bahkan yang terjadi gerakan mahasiswa terbesar pada tahun 98 ketika mencoba menurunkan Presiden Soeharto yang pada waktu rezim itu memimpin 32 tahun lamanya. Tetapi dengan adanya gerakan mahasiswa dengan menduduki gedung MPR, maka siapapun dia akan turun.

Nah menarik,di jaman sekarang yang saya lihat mahasiswa yang sadar akan ketimpangan Negara kita sangat minim sekali, sekali lagi saya cuman bisa bilang, bahwa yang menjadikan mahasiswa seperti itu adalah sifat komsumtifnya dan hedonismenya yang membuat akar-akar ke apatisan muncul pada dirinya, sehingga ketika tidak terkena masalah itu dia acuh tak acuh saja.

Yah, lanjut terkait gerakan mahasiswa hari ini saya rasa tidak efektif lagi, mengapa demikian?? Mahasiswa yang turun ke jalan hanya sebahagiaan saja, yang sadar akan hal itu sangat minim, di tambah lagi aksi yang kurang di senangi oleh para masyarakat karena terganggunya ketika menggunakan jalan. Teriak sana sini dengan lantang menggunakan megaphon itu sebenarnya sedang meneriaki siapa? Nah para Birokrat bajingan itu hanya sekedar mendengar saja, itupun kalau terdengar, karena mereka hanya duduk santai di ruangan yang megah dan mewah sambil menghitung uang yang bisa di colek lagi masuk ke rekeningnya. Iya ini fakta. Terkadang saya berfikir bahwa gerakan mahasiswa dengan sekedar berkoar dengan baik di depan gedung DPRD ataupun gedung lainnya hanya angin lewat saja, anarkis pun tetap seperti itu ,nyatanya para aparat menghajar bahkan menghalangi aksi aksi nyata mahasiswa ! Saya rasa gerakan gerakan demikian sudah tak efektif lagi, lalu adakah solusi untuk itu?? Tak ada perubahan sedikitpun, bahkan isu yang di angkat dari beberapa gerakan itu hanya seperti debu di hampas angin sepoi . Sampai sekarang saya masih bingung dengan hal itu, negeri ini sudah terlalu bajingan, para pemimpin dengan gagah beraninya bersumpah di atas kitab suci Al qur’an maupun Bibel tetap saja melanggar, karena mereka tak pernah takut Tuhan, berilmu Iya, Sekolah tinggi s1,s2,s3 bahkan Menyandang gelar Prof masih buta akan apa yang harus ia lakukan demi kebaikan negeri ini ! Tapi lebih tepatnya menyalahgunakan pengetahuan yang selama ini mereka dapatkan, lantas sampai kapan negeri ini akan begini??

Akankah Ada Gerakan Seluruh Mahasiswa Indonesia Terbesar Yang akan terjadi lagi seperti 98 ?

Akankah ada mahasiswa yang mengaku agent of change melakukan Perubahan bagi Negerinya???

Akankah semuanya merasa risih bahkan marah ketika mendengar ketimpangan pemerintah dalam mengelola negeri ini??

Lantas dimana letak arti negara Demokrasi dan Hukum Nya Negeri Ini??

Akankah mereka lebih gelisah ketika hak rakyat di injak injak bahkan hak dan martabat mereka di rampas, atau nilai mereka di ancam eror ketika mencoba turun menyuarakan kebenaran?

Sangat banyak kegelisahan penulis yang tak bisa di ungkapkan, tulisan di atas hanya sebagian besar dan kecil untuk di gambarkan, karena baik nya suatu negeri kedepan ada pada tangan – tangan pemuda dan pemudinya hari ini !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Muhammad khalid wahid "Corona dalam virus arus globalisasi"

seiring berjalannya zaman kita tidak terlepas dari pesatnya arus globalisasi dan bisa kita lihat berbagai info belahan dunia seiring berjala...

matinya demokrasi